Muara Teweh, Nuansanusantara com – Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Barito Utara, Hj Maya Savitri Shalahuddin, mengajak para pelajar untuk menolak praktik pernikahan usia anak dan lebih fokus pada pendidikan serta perencanaan masa depan. Ajakan tersebut disampaikan saat memberikan materi dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMA Negeri 4 Muara Teweh, Rabu (15/7/2026).
Dalam pemaparannya, Hj Maya menjelaskan bahwa perkawinan usia anak adalah perkawinan yang dilakukan oleh seseorang yang belum mencapai usia 19 tahun sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan. Menurutnya, pernikahan pada usia dini masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian karena berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang bagi kehidupan anak.
Ia mengungkapkan, pernikahan usia anak dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, pendidikan hingga kondisi sosial ekonomi keluarga. Risiko komplikasi kehamilan dan persalinan, meningkatnya angka kematian ibu dan bayi, serta gangguan kesehatan mental menjadi sejumlah konsekuensi yang perlu dipahami para remaja.
“Remaja harus memiliki cita-cita yang tinggi dan fokus menyelesaikan pendidikan. Jangan sampai masa depan yang seharusnya bisa diraih menjadi terhambat karena keputusan menikah sebelum siap secara fisik, mental, dan ekonomi,” kata Hj Maya di hadapan peserta MPLS.
Selain risiko kesehatan, lanjutnya, anak yang menikah pada usia dini juga berpotensi kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan dan mengembangkan kemampuan diri. Kondisi tersebut dapat berdampak pada terbatasnya peluang kerja dan kesejahteraan di masa mendatang.
Hj Maya menjelaskan bahwa terdapat berbagai faktor yang mendorong terjadinya perkawinan usia anak, antara lain kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, pengaruh budaya, kehamilan yang tidak direncanakan, kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, hingga tekanan lingkungan sekitar.
Karena itu, ia mengajak para siswa untuk memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, menghindari pergaulan yang berisiko, serta tidak ragu berkonsultasi dengan orang tua, guru maupun konselor apabila menghadapi persoalan yang dapat memengaruhi masa depan mereka.
Menurutnya, pendidikan merupakan investasi paling penting bagi generasi muda. Dengan pendidikan yang baik, anak-anak memiliki kesempatan lebih besar untuk meraih cita-cita, meningkatkan kualitas hidup, dan berkontribusi bagi pembangunan daerah.
Pada kesempatan tersebut, Hj Maya juga menegaskan bahwa pencegahan perkawinan usia anak tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Peran keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah harus berjalan seiring untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
“Dengan komunikasi yang baik, pendidikan yang memadai, serta dukungan lingkungan yang positif, setiap anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal untuk meraih cita-citanya,” ujarnya.
Kegiatan edukasi yang berlangsung dalam rangka MPLS tersebut mendapat sambutan positif dari para peserta. Siswa terlihat antusias mengikuti materi dan aktif menyimak berbagai penjelasan yang disampaikan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para pelajar memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai dampak pernikahan usia anak, pentingnya melanjutkan pendidikan setinggi mungkin, serta mampu merencanakan masa depan secara matang demi mewujudkan generasi Barito Utara yang sehat, cerdas, dan berkualitas. (fz)
Komentar0