Puruk Cahu, Nuansanusantara.com – Di tengah kehidupan modern yang sering menempatkan popularitas, pencapaian, dan pengakuan sebagai ukuran utama keberhasilan, Wakil Bupati Murung Raya, Rahmanto Muhidin, mengajak masyarakat untuk kembali merenungkan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Salah satunya adalah filosofi padi, sebuah kearifan sederhana yang menurutnya justru semakin relevan dalam kehidupan saat ini.
Menurut Rahmanto Muhidin, banyak orang bercita-cita menjadi hebat, sukses, dan berpengaruh, namun sering kali melupakan hal yang jauh lebih penting, yakni menjadi pribadi yang mampu menghadirkan ketenangan bagi lingkungan sekitarnya. Padahal, keberadaan seseorang akan lebih bermakna ketika mampu memberikan rasa nyaman, membangun kepercayaan, dan membawa manfaat bagi banyak orang.
“Padi yang semakin berisi akan semakin merunduk. Filosofi ini mengajarkan bahwa semakin tinggi ilmu, pengalaman, dan kedudukan seseorang, seharusnya semakin besar pula kerendahan hatinya. Bukan justru merasa paling benar atau paling penting,” ujar Rahmanto, Jum,at (8/7/2026).
Ia menilai, filosofi padi tidak hanya relevan dalam kehidupan pribadi, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin yang baik bukanlah mereka yang selalu ingin tampil paling menonjol, melainkan mereka yang mampu mendengar, memahami, dan melayani masyarakat dengan tulus.
Dalam perspektif kepemimpinan, Rahmanto menjelaskan bahwa masyarakat saat ini tidak hanya membutuhkan sosok yang cerdas dalam mengambil keputusan, tetapi juga pemimpin yang mampu membangun kedekatan emosional dengan rakyatnya. Pemimpin yang rendah hati akan lebih mudah menerima masukan, memahami persoalan secara utuh, serta menghadirkan solusi yang berpihak kepada kepentingan bersama.
“Kerendahan hati bukan tanda kelemahan. Justru di situlah letak kekuatan seorang pemimpin. Ketika seseorang mampu menempatkan dirinya sejajar dengan masyarakat, mendengar keluhan mereka, dan bekerja tanpa harus selalu mencari pujian, maka kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya,” katanya.
Rahmanto juga mengulas filosofi padi dari sudut pandang psikologi. Menurutnya, kehidupan saat ini sering diwarnai persaingan yang tidak sehat, keinginan untuk selalu terlihat lebih unggul, serta kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Kondisi tersebut kerap memicu stres, kecemasan, bahkan konflik sosial yang tidak perlu.
Sebaliknya, sikap rendah hati mampu menciptakan ketenangan batin. Seseorang yang memahami bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan akan lebih mudah menerima perbedaan, menghargai orang lain, serta menjaga hubungan sosial yang sehat.
“Ketika seseorang tidak lagi sibuk membuktikan dirinya lebih hebat dari orang lain, maka ia akan memiliki ruang untuk bertumbuh, belajar, dan memperbaiki diri. Di situlah ketenangan muncul,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rahmanto menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, atau peningkatan investasi. Pembangunan yang sesungguhnya juga menyangkut pembangunan karakter dan kualitas sumber daya manusia.
Ia meyakini bahwa masyarakat yang menjunjung nilai kerendahan hati, gotong royong, dan kepedulian sosial akan menjadi fondasi kuat bagi kemajuan daerah. Sebab, pembangunan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
“Daerah yang maju bukan hanya daerah yang memiliki gedung megah atau jalan yang bagus. Daerah yang maju adalah daerah yang masyarakatnya hidup rukun, saling menghargai, dan memiliki semangat untuk tumbuh bersama,” tuturnya.
Melalui refleksi mengenai filosofi padi tersebut, Rahmanto Muhidin berharap masyarakat Murung Raya dapat terus menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang telah menjadi bagian dari identitas bangsa. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, nilai kerendahan hati, kepedulian, dan semangat melayani dinilai tetap menjadi bekal penting dalam membangun kehidupan yang harmonis dan berkelanjutan.
“Pada akhirnya, yang paling diingat bukanlah seberapa tinggi jabatan atau seberapa besar kekuasaan seseorang. Yang akan selalu dikenang adalah seberapa besar manfaat yang telah diberikan kepada orang lain. Menjadi hebat itu baik, tetapi menjadi pribadi yang membawa ketenangan dan kebaikan bagi sesama jauh lebih bermakna,” pungkasnnya. (fz)
Komentar0