Muara Teweh, Nuansanuaantara.com – Antisipasi dampak fenomena El Niño ekstrem yang diprediksi terjadi pada 2026, pemerintah daerah bersama aparat keamanan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Langkah tersebut salah satunya dilakukan Pemerintah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, melalui Apel Gelar Pasukan dan Sarana Prasarana yang melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, serta instansi terkait.
Kapolres Barito Utara, AKBP Singgih Febiyanto, menegaskan bahwa pendekatan pencegahan menjadi prioritas utama dalam penanganan karhutla, terutama di tengah ancaman cuaca kering berkepanjangan akibat El Nino.
“Pencegahan menjadi fokus utama, melalui patroli terpadu di wilayah rawan serta pemanfaatan teknologi pemantauan titik panas (hotspot) untuk deteksi dini,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mencegah kebakaran dengan tidak membuka lahan menggunakan metode pembakaran, yang selama ini menjadi salah satu pemicu utama karhutla di berbagai wilayah.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Barito Utara, Muhlis, menilai kesiapsiagaan lintas sektor menjadi kunci dalam meminimalkan dampak bencana, termasuk potensi kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kondisi cuaca ekstrem menuntut respons yang cepat dan terkoordinasi. Sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat harus diperkuat,” katanya.
Upaya yang dilakukan di Barito Utara mencerminkan langkah preventif yang juga tengah didorong pemerintah di berbagai daerah rawan karhutla, khususnya di wilayah Kalimantan dan Sumatra.
Dengan meningkatnya potensi kekeringan akibat fenomena El Nino, penguatan sistem deteksi dini, kesiapan personel, serta edukasi kepada masyarakat dinilai menjadi faktor krusial dalam menekan risiko kebakaran hutan dan lahan secara nasional. (fz)
Komentar0