Puruk Cahu, Nuansanusantara.com – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah.
Kondisi tersebut memicu antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan menyebabkan harga BBM eceran melonjak tajam hingga mencapai Rp30 ribu/liter jenis pertalite.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Jum,at (8/5/2026), harga Pertamax di tingkat pengecer sempat mencapai Rp25 ribu per liter. Sementara itu, harga Pertalite dijual berkisar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu dan Rp30 ribu per liter akibat terbatasnya pasokan.
Situasi tersebut dinilai mulai berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat.
Sejumlah warga mengaku terpaksa mengurangi mobilitas karena tingginya harga bahan bakar, termasuk pelaku usaha kecil yang menggantungkan aktivitas usahanya pada ketersediaan BBM.
Selain antrean panjang di SPBU, masyarakat juga mengeluhkan sulitnya memperoleh BBM dalam jumlah normal. Hingga kini, penyebab pasti kelangkaan masih belum diketahui secara pasti.
Warga menduga gangguan terjadi akibat keterlambatan distribusi pasokan atau hambatan penyaluran ke wilayah Murung Raya.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Murung Raya, Lulus Riadi, angkat bicara dan menyampaikan keprihatinannya mendalam terhadap kondisi tersebut.
Untuk itu, ia meminta pemerintah daerah dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret agar kelangkaan BBM tidak berlangsung berkepanjangan.
“Kelangkaan BBM ini tentu berdampak terhadap roda perekonomian masyarakat dan dapat menghambat aktivitas sehari-hari. Kami berharap ada penanganan cepat dari pemerintah dan pihak terkait,” ujarnya.
Masyarakat berharap distribusi BBM dan harga beli bagi kebutuhan masyarakat Murung Raya dapat segera kembali normal sehingga aktivitas ekonomi dan kebutuhan transportasi warga tidak terus terganggu, disebakan langka dan mahalnya harga yang dipatok pengencer BBM. (fz)
Komentar0