Muara Teweh, Nuansanusantara com – Sikap tegas dan emosional yang ditunjukkan seorang pria yang mengaku sebagai Direktur Utama (Dirut) Bank Indonesia (BI) saat diminta menyerahkan data pribadinya oleh wartawan. Ia menolak memberikan informasi apa pun sebelum identitas dan tujuan penggunaan data dijelaskan secara terbuka.
Penolakan tersebut bermula ketika yang bersangkutan dihubungi terkait dugaan klaim hadiah bernilai ratusan juta rupiah bahkan miliaran dari BI. Dalam komunikasi itu disebutkan bahwa hadiah tidak dapat dicairkan atau ditransfer sebelum sejumlah persyaratan administrasi dipenuhi termasuk uang kepada penerima hadiah SP.
Namun, pria tersebut memilih bersikap hati-hati. Ia menilai permintaan data pribadi tanpa kejelasan identitas merupakan hal yang patut dicurigai, mengingat maraknya penyalahgunaan data pribadi dan berbagai modus penipuan yang terjadi di Indonesia.
“Kalau memang membutuhkan data saya, tunjukkan dulu identitas dan tujuan yang jelas. Setelah itu baru saya pertimbangkan akan memberikan data,” tegasnya, kepada awak media, Jum,at (11/9/2026).
Ia juga mempertanyakan alasan pihak yang meminta data tersebut. Menurutnya, masyarakat perlu lebih waspada terhadap berbagai bentuk permintaan data yang tidak disertai dasar yang jelas.
“Setahu saya, (wartawan, red), Bank Indonesia adalah bank sentral yang memiliki tugas mengatur dan menjaga stabilitas sistem keuangan, bukan lembaga yang memberikan hadiah kepada masyarakat secara langsung,” ujarnya.
Ketegangan semakin meningkat ketika muncul ancaman untuk menyebarluaskan atau memviralkan persoalan tersebut. Alih-alih merasa tertekan, ia menilai langkah tersebut tidak akan menyelesaikan masalah dan justru berpotensi memperkeruh keadaan.
Menurutnya, selama proses komunikasi berlangsung, ia telah berusaha melayani dan memberikan tanggapan secara baik serta sopan. Namun, sikap yang sama dinilainya tidak ditunjukkan oleh pihak yang meminta data.
“Kalau memang mau memviralkan, silakan saja. Saya sudah berusaha melayani dengan baik dan sopan,” katanya.
Tidak berhenti di situ, pria tersebut bahkan menantang pihak yang bersangkutan untuk menempuh jalur resmi apabila merasa memiliki keberatan atau persoalan hukum.
Ia menegaskan bahwa penyelesaian melalui mekanisme yang sah lebih tepat dibandingkan saling mengancam di media sosial.
Sementara pimpinan Bank Indonesia belum berhasil di konfirmasi awak media, kendatipun sudah berupaya maksimal.
“Kalau memang ada masalah, kita selesaikan melalui jalur yang benar. Pengadilan adalah tempat yang tepat untuk membicarakan persoalan seperti ini,” tandasnya.
Pernyataan tersebut memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian mendukung sikap hati-hati dalam menjaga data pribadi di tengah maraknya kasus penipuan digital dan penyalahgunaan identitas. Di sisi lain, sejumlah warga mengingatkan pentingnya memastikan kebenaran informasi terkait klaim hadiah yang kerap digunakan sebagai modus untuk memperoleh sejumlah uang dari korban. (fz)
Posting Komentar